tokoternak.com

tempatnya beternak

Cara Budidaya Udang Galah di Kolam Sawah

loading...

6. Pengelolaan unit operasional

a. Pengelolaan Air

Air pemeliharaan larva udang galah skala rumah tangga harus memiliki salinitas diantara 6 hingga 10 promil. Kejernihan air mutlak diperlukan agar tidak menggangu proses pemberian pakan dan pemantauan kualitas air. Air diganti hanya sebanyak air yang terbuang pada saat pembersihan dasar bak (Penyifonan) sehingga kejutan akibat pergantian air dihindari sedapat mungkin. Bak perlu ditutup agar sinar matahari tidak langsung menyinari bak yang dapat menimbulkan pertumbuhan lumut yang berbahaya.

b. Pemeliharaan Larva Benih

Udang Galah yang baru menetas (Larva) dapat diperoleh dari pembenihan skala besar ataupun dari petani tambak. Pembelian dari pembenihan yang besar biasanya dilakukan dalam jumlah 1 (satu) juta benih dengan keuntungan bahwa larva sudah jelas mutu dan jumlahnya sejak awal walaupun harganya mahal. Pasca larva yang dapat dihasilkan seauai kapasitas bak berdasarkan pengalaman di Hatchery skala rumah tangga, cukup bervariasi antara 5 % hingga 40 % tergantung kecermatan/keahlian dalam pemeliharaan dan dukungan cuaca pada saat pemeliharaan. Larva dipelihara dalam bak sistem tertutup (in door) didalam ruangan dengan suhu yang panas berkisar 29 ? C – 31 ? C atau di ruang terbuka (out door) hanya dengan penutup terpal, kelemahannya suhu dalam bak sangat berfluktuasi bisa sangat panas bahkan sebaliknya amat dingin pada saat musim penghujan namun jika dikelola dengan cermat masih dapat menghasilkan survival rate (SR) yang menguntungkan.

c. Pemberian Pakan

Pakan larva diberikan dalam jumlah yang sangat bervariatif sesuai nafsu makan udang galah yang dari hari ke hari atau dari jam ke jam mengalami perubahan sesuai dengan tingkat perubahan metabolismenya. Frekuensi pemberian pakan sebaiknya 1 (satu) s/d 2 (dua) jam sekali setiap hari dan berakhir setelah udang galah dipanen. Pemberian pakan dilakukan dengan mematikan aerasi dan larva udang yang sehat akan segera naik ke permukaan air lalu pakan ditebar merata di seluruh permukaan air. Setelah larva udang seluruhnya tampak memegang pakan yang diberikan, kemudian aerasi dihidupkan kembali.

Pemberian pakan tidak boleh berlebihan sebab akan merusak kualitas air yang dapat mengakibatkan kematian larva yang dipelihara. Pakan alami (artemia) mulai diberikan, setelah sebelumnya ditetaskan terlebih dahulu selama + 14 jam atau lebih dalam bak berbentuk kerucut/konikel tank yang diaerasi dengan cara kultur menurut petunjuk Produck Artemia. Pada awal pemberian, artemia sebaiknya dilemahkan terlebih dahulu agar mudah ditangkap oleh larva Udang Galah yang dipelihara. Artemia sebaiknya dipanen dan diberikan bila mana pemberian pakan buatan tidak diberikan lagi. Hal tersebut disamping menghemat biaya juga untuk menekan mortalitas udang akibat kanibalisme sesama larva. Mengingat harga artemia amat mahal, Jumlah artemia yang diberikan pada larva s/d Posca larva berkisar antara 5 s/d 40 ekor/larva/PL per hari sesuai umur.

d. Pembuatan Media Kultur

Media kultur (air payau) dibuat dengan cara mencampur air tawar dengan air asin menggunakan rumus sebagai berikut:

a. Pengenceran S = S1. V1 + S2 . V2
V1 + V2
S = Salinitas yang dikehendaki …………. ?o
S1 = Salinitas tinggi (air laut) ……………. %o
( Diukur dengan salino meter/refrakto meter) S2 = Salinitas rendah (air tawar) ………… %o
V1 = Volume air salinitas tinggi …………. m3/ton V2 = Volume air salinitas rendah ………… m3/ton
b. Pengenceran : V1 x N1 = V2 x N2
* V1 = Volume air laut
* N1 = Salinitas air laut mula-mula
* V2 = Volume setelah pengenceran (air payau)
* N2 = Salinitas setelah pengenceran (air payau yang diperlukan)
Misal = V1 x N1 = V2 x N2
= 10 x 30 = V2 x 6
= V2 = 300/6 = 50 liter = 10 + … = 50 liter –? 50 – 10 = 40 liter
= 1 + …. = 5 liter ……….. 1 : 4 = air asin : air tawar

Media larva perlu dipersiapkan 24 jam sebelum digunakan selama waktu tersebut ditreatmen dengan larutan desinfektan seperti Kaporit/Chlorin dengan dosis 1,5 ppm s/d 5 ppm dan sebelum digunakan dinetralisir dengan larutan Natrium Tio Sulfat + 2/3 dari dosis Kaporit yang digunakan (Dengan catatan jika dosis Kaporit yang digunakan cukup tinggi).

e. Pakan Buatan

  • Peralatan: Mixer, Dandang/Soblok, Kompor, Sendok, Baskom, Saringan teh/kelapa, Alat lain yang menunjang.
  • Bahan – Skim 0,25 kg – Telur 1 kg – Terigu 80 gr – Vitamin/Mineral (Calsidol/AD Plek)
  • Cara Pembuatan
  1. Telur dipecahkan dan kuning telur dengan putih telurnya dipisahkan.
  2. Kuning telur dikocok dan ditambahkan air secukupnya + 1 liter.
  3. Kemudian masukkan skim dan terigu lalu dikocok sampai merata.
  4. Adonan tersebut dibungkus dalam plastik dan dikukus sampai masak.
  5. Setelah masak dan didinginkan baru ditambahkan vitamin/mineral
  6. Adonan tersebut disimpan dalam almari es (Kulkas)
  7. Sebelum pemberian pakan pada larva udang, terlebih dahulu pakan disaring sesuai ukuran larva yang akan diberi pakan dengan saringan teh/kelapa (ukuran kecil, sedang, dan besar). Ukuran 16 mesh/cm untuk larva berumur 12 – 13 hari dan ukuran 8 mesh/cm untuk umur 14 – 35 hari sampai dengan Pasca Larva.

7. Panen dan distribusi

a. Panen

Bila kondisi pemeliharaan baik, maka waktu yang dibutuhkan untuk pemeliharaan larva cukup singkat, yaitu berkisar 35 hari atau 90 % larva sudah menjadi PL (Post Larva) dapat dilakukan panen, Cara panen dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Aerasi dimatikan
  2. Ditunggu beberapa saat sampai larva berada di permukaan air.
  3. Larva yang berada dipermukaan air dipindahkan dengan saringan larva (seser) ke tempat lain sebagai penampungan sementara.
  4. Saringan pasca larva dipasang dalam bak, kemudian kran aerasi dibuka.
  5. Dilakukan pemisahan antara pasca larva dengan larva yang ikut terbawa.
  6. Pasca Larva yang diperoleh dihitung dengan cara sampling atau dihitung satu persatu, apabila jumlahnya tidak terlalu banyak.
  7. Larva yang ditampung ditempat penampungan sementara, kemudian dikembalikan lagi ke dalam bak larva.
  8. Pasca larva yang diperoleh ditampung dalam bak penampungan.
  9. Pasca larva selanjutnya diadaptasikan dilingkungan air tawar dengan jalan penurunan salinitas secara betahap 2 %o setiap hari agar tidak terjadi stress pada larva
  10. Selama adaptasi didalam bak pasca larva dipasang shelter plastik gelombang + 80 % dari luas dasar bak.
  11. Jika pasca larva sudah teradaptasi dengan air tawar maka pasca larva siap di perjual belikan.

Demikianlah artikel mengenai budidaya udang galah, terimakasih telah berkunjung :).

Referensi tulisan: 

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN  INTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR TAWAR  KHUSUSNYA PEMBENIHAN DAN BUDIDAYA UDANG GALAH  SKALA RUMAH TANGGA, Oleh YUS WARSENO, S.Pi

1 Comment

Add a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tokoternak.com © 2015 Frontier Theme